Ikhwati
fillah….
Rasulullah saw mengingatkan kita akan pentingnya menjaga hati yang
bersih. Sebagaimana sabda beliau;
اَلاَ اِنَّ فِي الجَسَدِ
مُضْغَة اِذا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُهُ وَاِذا فَسَدَتْ فَسَدَالجَسَدُ
كُلُهُ اَلاَ وَهِيَ القَلْبُ (روه البخاري ومسلم)
Ketahuilah bahwa
sesunggunhynya dalam jasad itu terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka
baik maka baiklah seluruh tubuhnya dan apabila ia rusak maka rusaklah
seluruhnya, ketahuilah bahwa ia itu adalah hati (alqalbu). (HR. Bukhari dan
Muslim)
ٍْSaudara-saudaraku, sungguh beruntung bagi siapapun wabilkhusus
kader dakwah , yang mampu menata qolbunya menjadi hati yang baik , bening,
jernih, bersih, dan selamat (صَلَحَتْ ). Sungguh berbahagia
dan mengesankan bagi siapapun sekiranya memiliki qolbu yang tertata,
terpelihara, dan terawat dengan sebaik-baiknya. Karena selain senantiasa
merasakan kelapangan, ketenangan, ketenteraman, kesejukan, dan indahnya hidup
di dunia ini, pancaran kebeningan hati pun akan tersemburat pula dari indahnya
setiap aktivitas yang dilakukan (صَلَحَ الجَسَدُ كُلُهُ) .
Betapa
tidak, orang yang hatinya tertata dengan baik, wajahnya akan jauh lebih jernih.
Bagai embun menggelayut di ujung dedaunan di pagi hari yang cerah, lalu terpancari sejuknya sinar mentari pagi;
jernih, bersinar, sejuk, dan menyegarkan. Tidak berlebihan jika setiap orang
akan merasa nikmat menatap pemilik wajah yang cerah, ceria, penuh sungging
senyuman tulus seperti ini.
Begitu
pula ketika berkata, kata-katanya akan bersih dari melukai, jauh dari kata-kata
yang menyombongkan diri, terlebih lagi ia terpelihara dari kata-kata riya,
subhanallah. Setiap butir kata yang keluar dari lisannya yang telah tertata
dengan baik ini, akan terasa sarat dengan hikmah, sarat dengan makna, dan sarat
akan manfaat. Tutur katanya bernas dan berharga. Inilah buah dari gelegak
keinginan di lubuk hatinya yang paling dalam untuk senantiasa membahagiakan
orang lain.
Ikhwah dan Akhwat Fillah ....
Hati yang
bersih merupakan buah dari amal yang diperbuat hambanya. Bakr bin Abdullah Al Muzanni, seorang tabi’in mengungkapan
akan hal ini seperti dalam penuturannya;
"إذَا وَجَدْتَ مِنْ إِخْوَانِكَ
جَفَاءً، فَتُبْ إلىَ اللهِ فَإِنَّكَ أَحْدَثْتَ ذَنْبًا،
وَإِذَا وَجَدْتَ مِنْهُمْ زِيَادَةَ وُدٍّ،
فَذَلِكَ لِطَاعَةٍ أَحْدَثْتَهَا فَاشْكُرِ اللهَ تعالى
Jika kalian mendapati pada saudaramu
kekeringan, maka segeralah bertaubat kepada Allah, karena sesungguhnya itu
merupakan akibat dari dosa yang ia kerjakan. Dan apabila kalian mendapati dari
mereka bertambah kasih sayang, yang
demikian itu merupakan buah dari ketaatan, maka bersyukurlah kepada Allah.
Orang yang
bersih hati, akal pikirannya pun akan jauh lebih jernih. Baginya tidak ada
waktu untuk berpikir jelek. Apalagi berpikir untuk menzhalimi orang lain, sama sekali tidak terlintas
dibenaknya. Waktu baginya sangat berharga. Mana mungkin sesuatu yang berharga
digunakan untuk hal-hal yang tidak berharga? Sungguh suatu kebodohan yang tidak
terkira. Karenanya dalam menjalani setiap waktu yang dilaluinya ia pusatkan
segala kemampuannya untuk menyelesaikan setiap tugas hidupnya. Tak berlebihan
jika orang yang bersih hati seperti ini akan lebih mudah memahami setiap
permasalahan, lebih mudah menyerap aneka ilmu pengetahuan, dan lebih cerdas
dalam melakukan beragam kreativitas pemikiran. Subhanallah, bersih hati
ternyata telah membuahkan aneka solusi optimal dari kemampuan akal pikirannya.
Kesehatan
tubuh pun terpancari pula oleh kebeningan hati, buah dari kemampuannya menata
qolbu. Detak jantung menjadi terpelihara, tekanan darah terjaga, ketegangan
berkurang,dan kondisi diri yang senantiasa diliputi kedamaian. Tak berlebihan
jika tubuh pun menjadi lebih sehat, lebih segar, dan lebih fit. Tentu saja
tubuh yang sehat dan segar seperti ini akan jauh lebih memungkinkan untuk
berbuat banyak kepada umat.
Ikhwah Fillah.....
Tarnyata
hati yang bersih, sangat banyak manfaatnya. Apalagi kita sebagai kader
dakwah. Kader dakwah yang telah tertata hatinya adalah kader yang telah berhasil merintis tapak demi tapak
jalan ke arah kebaikan. Tidak mengherankan ketika ia menjalin hubungan dengan
sesama manusia pun menjadi sesuatu yang teramat mengesankan. Hati yang bersih
akan mampu menaklukan hati orang lain dan itulah wasilah dakwah kita sebelum
kita menaklukan hati orang lain. Abbas Asisi mengatakan Abbas Asisi mengatakan;
كَسْبُ الْقُلُوبُ
مُقَدَّم على كَسْبِ العُقُولِ
(Menaklukan hati lebih didahulukan
sebelum menaklukan akalnya).
Hati yang
bersih, ibarat magnet yang dapat menarik benda-benda disekitarnya. Akan
terpancar darinya akhlak yang indah mempesona, rendah hati, dan penuh
dengan kesantunan. Siapapun yang berjumpa akan merasa kesan yang mendalam,
siapapun yang bertemu akan memperoleh aneka manfaat kebaikan, bahkan ketika
berpisah sekalipun, orang seperti ini menjadi buah kenangan yang tak mudah
dilupakan. Dan tentunya bagi seorang da,i, hati yang bersih merupakan modal
untuk untuk dapat menaklukan hati-hati manusia diajak kejalan yang benar yang
kemudian diajak untuk bersama-sama berjuang dijalan Allah Swt. Penting bagi
setiap Al- Akh untuk mentadabburi hadits Rasul berikut ini;
الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ
مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ .)
رواه البخاري ومسلم(
Ruh-ruh itu bagaikan prajurit yang selalu bersiap siaga. Maka siap
yang mengenalnya ia akan bersatu dan jika tidak mengenalnya akan berpecah. (HR.
Bukhori Muslim)
Dan,
Subhanallah, lebih dari semua itu, kebersihan
hatipun ternyata dapat membuat hubungan dengan Allah menjadi luar biasa
manfaatnya. Dengan berbekal keyakinan yang mendalam, mengingat dan menyebut-Nya
setiap saat, meyakini dan mengamalkan ayat-ayat-Nya, membuat hatinya menjadi
tenang dan tenteram. Konsekuensinya, dia pun menjadi lebih akrab dengan Allah,
ibadahnya lebih terasa nikmat dan lezat. Begitu pula do’a-do’anya menjadi luar
biasa mustajabnya. Mustajabnya do’a tentu akan menjadi solusi bagi
persoalan-persoalan hidup yang dihadapinya. Dan yang paling luar biasa adalah
karunia perjumpaan dengan Allah Azza wa Jalla di akhirat kelak, Allahu Akbar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar